Bersyukur Doa Tak Terkabul”: Sebuah Refleksi Mendalam di Wisuda ke-38 STIE Indonesia Makassar

MAKASSAR, TIMUR.NEWS – Ruangan wisuda itu biasanya dipenuhi tawa, bunga, dan euforia keberhasilan. Namun, pada Wisuda Sarjana ke-38 STIE Indonesia Makassar, suasana menjadi hening dan kontemplatif ketika Andryan Setyadharma, SE., M.Si., PhD, naik ke mimbar orasi ilmiah.

Alih-alih hanya memberikan pujian klise tentang kesuksesan, Andryan justru membawa para wisudawan merenungi sisi lain kehidupan: kegagalan dan doa yang tidak dijawab.

Pelajaran dari Tragedi Challenger

Di hadapan 110 wisudawan yang terdiri dari Program Studi Manajemen dan Akuntansi, Andryan membagikan sebuah kisah pilu namun bermakna dari Amerika Serikat. Kisah seorang guru yang bermimpi menjadi astronaut NASA dalam misi pesawat ulang-alik Challenger.

Guru tersebut masuk 100 besar, namun gagal di tahap akhir. Hatinya hancur, marah, dan merasa Tuhan tidak adil. Namun, 73 detik setelah Challenger lepas landas, pesawat itu meledak di udara. Guru yang gagal terpilih itu selamat karena kegagalannya.

“Saya bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doa saya dikabulkan,” ujar Andryan dengan nada bergetar. Ia merefleksikan perjalanan hidupnya sendiri—kegagalan bertubi-tubi saat tes CPNS yang justru menuntunnya meraih gelar S2, S3 di New Zealand, dan menjadi akademisi seperti sekarang.

Pesan ini menampar realita para sarjana baru yang mungkin akan menghadapi kerasnya dunia kerja. “Penolakan demi penolakan mungkin akan Anda terima. Tapi ingat, Tuhan punya rencana lain,” tambahnya.

Pendidikan: Sebuah Probabilitas, Bukan Jaminan

Andryan juga menyinggung fenomena “Steve Jobs”—alibi klasik bahwa orang tidak perlu sekolah tinggi untuk sukses. Ia mematahkan argumen tersebut dengan logika probabilitas.

“Pendidikan memang tidak menjamin hidup layak. Tapi pendidikan memperbesar kemungkinan seseorang hidup layak,” tegasnya. Ia menekankan bahwa di tengah era disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI), ijazah hanyalah tiket masuk. Kompetensi, kemampuan adaptasi, dan integritaslah yang menjadi penentu.

Membangun Karakter di STIE Indonesia Makassar

Semangat ketangguhan mental yang disampaikan Andryan selaras dengan visi yang dibangun oleh institusi. Ketua STIE Indonesia Makassar, Dr. Ilham Z. Salle, SE, M.Si, Ak, dalam sambutannya menegaskan bahwa kampus ini tidak hanya sekadar mencetak pencari kerja, tetapi membangun manusia berkarakter.

“Sejak tahun akademik 2020/2021, kami menerapkan pendidikan character building. Dunia pendidikan bukan sebatas transfer ilmu, tapi membentuk watak yang santun dalam etika dan estetika,” ujar Dr. Ilham.

Di usia STIE Indonesia Makassar yang telah menginjak 49 tahun, Dr. Ilham melaporkan capaian membanggakan. Prodi Manajemen telah meraih predikat “Baik Sekali”, sementara Prodi Akuntansi tengah bersiap untuk reakreditasi menuju level yang lebih tinggi di awal 2026.

Yang menarik, wisuda kali ini juga menjadi bukti inklusivitas pendidikan. Sebagian besar wisudawan adalah penerima bantuan KIP Kuliah berkat dukungan LLDIKTI Wilayah IX Sultan Batara. Selain itu, terdapat 7 wisudawan yang lulus melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sebuah pengakuan nyata terhadap pengalaman kerja profesional.

Bekal Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI)

Menjawab tantangan Andryan tentang pentingnya kompetensi tambahan, Dr. Ilham memastikan para lulusan tidak hanya pulang membawa ijazah. Mengacu pada kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), setiap wisudawan juga dibekali Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Dokumen ini merekam jejak kompetensi, kemandirian, dan prestasi lulusan selama menjadi mahasiswa, menjadi nilai tambah saat melamar kerja.

Epilog: Gerbang Kehidupan Nyata

Wisuda hari ini ditutup dengan pesan yang kuat: Peluklah orang tua, karena doa mereka adalah bahan bakar yang tak terlihat. Jagalah integritas, karena itu adalah kompas moral di tengah godaan pragmatisme.

Bagi para wisudawan STIE Indonesia Makassar, hari ini bukan akhir. Ini adalah hari pertama mereka melangkah ke dunia di mana kegagalan bukanlah kiamat, melainkan—seperti kata Andryan Setyadharma—sebuah cara Tuhan untuk mengarahkan kita pada rencana yang lebih indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru