BONE, BERITA-SULSEL.COM — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Makassar menggelar kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Tematik Stunting di Kabupaten Bone, Jumat (6/3). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nyata mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting di Sulawesi Selatan.
Pemerintah terus mendorong penurunan angka stunting secara holistik dan terintegrasi. Karena itu, berbagai kementerian, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional tersebut, BBPOM Makassar hadir langsung di tengah masyarakat melalui edukasi yang menyasar kelompok strategis. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, dampak, serta langkah pencegahan stunting sejak dini.
BBPOM Makassar juga mengajak masyarakat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Melalui edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan mampu berperan aktif sebagai kader pencegahan stunting.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi balita stunting di Kabupaten Bone pada tahun 2024 mencapai 26 persen. Angka ini masih berada di atas prevalensi nasional yang tercatat 19,8 persen. Kondisi tersebut mendorong BBPOM Makassar menetapkan Bone sebagai salah satu lokasi pelaksanaan KIE Tematik Stunting melalui inovasi PARENTING KIE (Pantau dan Reduksi Stunting melalui KIE).
BBPOM Makassar kemudian berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bone untuk melaksanakan kegiatan tersebut di Gedung PKK Kabupaten Bone. Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, ibu yang memiliki anak stunting, hingga ibu dengan anak usia bawah dua tahun (baduta). Selain itu, pelajar, remaja putri, kader PKK, kader Posyandu, guru, dan kader dasawisma juga mengikuti kegiatan tersebut.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bone H. Yusuf membuka kegiatan tersebut sekaligus menyampaikan apresiasi kepada BBPOM Makassar atas dukungannya dalam upaya percepatan penurunan stunting di daerah itu.
“Hari ini kita hadir untuk mendapatkan edukasi dari BPOM. Pengetahuan yang kita peroleh diharapkan dapat disebarkan kepada masyarakat agar bersama-sama keluar dari masalah kesehatan. Edukasi sejak remaja sangat penting agar kita dapat mencegah stunting pada generasi mendatang menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai peran dan program Dinas Kesehatan dalam pencegahan stunting. Program tersebut antara lain skrining anemia pada remaja putri, pemberian tablet tambah darah, serta pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronik (KEK).
Selain itu, pemerintah daerah juga menjalankan program GEREBEK MISTER GINTING atau Gerakan Bersama Eliminasi Kasus Ekstrem Gizi Buruk dan Stunting. Program ini mencakup berbagai kegiatan seperti kelas ibu hamil dan kelas balita.
Sementara itu, dari pihak BBPOM Makassar, Atsuko Al-Aminy selaku Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Ahli Madya memaparkan materi mengenai stunting dan keamanan pangan. Ia menekankan bahwa pangan yang aman, bermutu, dan bergizi memiliki peran penting dalam mencegah stunting.
Selanjutnya, Ahmad Lalo, PFM Ahli Madya BBPOM Makassar, menyampaikan materi mengenai gizi seimbang, konsep Isi Piringku, serta pentingnya memahami kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam makanan.
Dalam sesi tersebut, masyarakat juga diajak memahami cara membaca informasi nilai gizi pada label produk pangan. Selain itu, peserta diperkenalkan dengan prinsip Cek KLIK, yaitu Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa sebelum membeli produk pangan.
Sesi diskusi berlangsung aktif dan interaktif. Peserta menyampaikan berbagai pertanyaan terkait pola makan sehat, gizi anak, hingga cara memilih produk pangan yang aman bagi keluarga.
Melalui kegiatan ini, BBPOM Makassar berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai stunting sekaligus mampu menerapkan pola konsumsi pangan yang aman dan bergizi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya pencegahan stunting diharapkan berjalan lebih efektif. Pada akhirnya, langkah tersebut akan mendukung lahirnya generasi Indonesia yang sehat, tangguh, produktif, dan berkualitas.












