MAKASSAR, TIMUR.NEWS – JK Arenatorium Universitas Hasanuddin riuh dengan tawa lebih dari 4.500 mahasiswa pada Selasa sore. Sumbernya adalah Kristo Emanuel, sosok kreatif di balik layar yang tampil santai namun penuh kejujuran. Dalam acara Generasi Campus Roadshow Makassar, Kristo membagikan perspektif yang menampar stigma: mengejar passion tidak selalu dimulai dari kemampuan yang sempurna.
“Gua suka basket tapi nggak jago basket. Gua suka film tapi dulu nggak tahu kalau ada yang namanya sutradara, makanya gue mau jadi sutradara,” ucap Kristo disambut gelak tawa. Kelakarnya menyimpan pesan mendalam: passion tidak lahir dari keahlian, melainkan dari rasa ingin tahu yang terus bertumbuh.
Dari Keterbatasan, Lahir Keberanian
Kristo Emanuel, yang sejak usia empat tahun telah menjadikan layar televisi sebagai jendela imajinasi, mengakui bahwa ia memulai dengan rasa “pas-pasan.” Namun, ia menolak menjadikan batasan kemampuan sebagai alasan untuk berhenti. Justru sebaliknya, ia menjadikannya ruang belajar yang tak ada habisnya.
“Kalau kita nunggu jago dulu baru mulai, ya nggak akan mulai-mulai,” ujarnya ringan.
Bagi Kristo, keberanian mencoba adalah bentuk cinta terhadap proses. Kemampuan dapat diasah, tetapi kemauan untuk terus berjalan adalah hal yang tak bisa diajarkan. Ia menekankan, film bukan sekadar tontonan, melainkan cara memahami hidup. Kecintaannya yang sederhana namun kuat itulah yang menjadi bahan bakar tak pernah padam, mendorongnya untuk terus membuat karya-karya kecil yang mendekatkannya pada impian besar.
“Selama masih suka, selama masih penasaran, berarti gua belum selesai,” katanya, menegaskan bahwa cinta sejati pada sesuatu bukanlah soal hasil, melainkan tentang keberanian untuk terus melangkah di jalan yang dicintai.
Tiga Kunci dari Dunia Kreatif
Dalam sesi Creativity on Stage, Kristo membagikan tiga pelajaran penting yang ia dapatkan selama berkarier:
- Soal Kemampuan yang Pas-Pasan: Kristo mengakui bahwa ia bukan orang yang langsung ahli. Keterbatasan justru mendorongnya untuk mencari turunan dari hal yang ia sukai, mulai dari menulis, videografi, hingga akting. Dunia kreatif, katanya, punya banyak pintu masuk.
- Cobain Hal Baru: Kristo mengenang masa ketika ia mencoba stand up comedy. Dari pengalaman itu, ia menemukan cara menulis yang jujur dan ringan, yang kemudian sangat berguna saat menulis filmnya sendiri. Setiap langkah baru selalu membawa pelajaran tak terduga.
- Tambah Teman: Ia percaya bahwa hubungan baik adalah bagian penting dari perjalanan kreatif. “Lewat teman, kita bisa saling bantu, saling belajar, dan saling kasih semangat,” tuturnya.
Menutup sesinya, Kristo Emanuel berpesan pada para mahasiswa untuk tak takut mencari dan mengejar passion mereka sendiri.
“Semoga kalian bisa nemuin dan ngejar hal yang bikin kalian hidup,” ucapnya.
Pesan sederhana tersebut menyentuh siapa pun yang sedang berjuang dan bermimpi: pada akhirnya, passion bukan tentang siapa yang paling berbakat, tapi siapa yang paling berani untuk tetap melangkah, meski merasa belum cukup mampu.

