MEDAN, TIMUR.NEWS – Di tengah persaingan global yang semakin ketat, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah lulusan atau banyaknya publikasi ilmiah. Sebaliknya, dunia kini menilai kualitas universitas dari kemampuannya melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan nasional. Karena itu, gagasan yang disampaikan Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, saat kuliah umum di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan layak menjadi perhatian seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Melalui konsep Academic, Business, Government (ABG), Taruna Ikrar menawarkan pendekatan yang tidak hanya relevan, tetapi juga terbukti berhasil diterapkan oleh negara-negara maju. Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga Tiongkok menunjukkan bahwa kemajuan riset dan inovasi lahir dari kolaborasi erat antara kampus, industri, dan pemerintah. Dengan kata lain, ketiga unsur tersebut saling melengkapi sehingga mampu menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan.
Selama ini, banyak perguruan tinggi di Indonesia masih berfokus pada publikasi ilmiah sebagai tolok ukur utama keberhasilan akademik. Publikasi memang penting karena menjadi indikator kualitas penelitian. Namun, hasil riset akan memiliki nilai yang jauh lebih besar apabila dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, hilirisasi riset harus menjadi prioritas agar inovasi tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah.
Selain itu, dunia usaha memiliki peran yang tidak kalah penting. Industri mampu mengubah hasil penelitian menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Dengan dukungan investasi, teknologi, dan jaringan pasar, inovasi dari kampus dapat berkembang menjadi solusi yang digunakan masyarakat secara luas.
Di sisi lain, pemerintah berperan sebagai regulator sekaligus fasilitator. Kebijakan yang adaptif dan berbasis sains akan mempercepat proses inovasi, memberikan kepastian hukum, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Oleh karena itu, keberhasilan konsep ABG sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak untuk membangun sinergi yang saling menguatkan.
Pandangan Taruna Ikrar juga mencerminkan kebutuhan Indonesia saat ini. Bangsa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, kekayaan biodiversitas yang luar biasa, serta jumlah perguruan tinggi yang terus berkembang. Akan tetapi, potensi tersebut belum sepenuhnya menghasilkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Karena itu, kolaborasi menjadi solusi yang lebih efektif dibandingkan bekerja secara terpisah.
Tidak hanya itu, pengalaman akademik dan profesional Taruna Ikrar memberikan contoh nyata bahwa jejaring internasional memiliki pengaruh besar terhadap kualitas riset. Perjalanan pendidikannya di Indonesia, Jepang, hingga Amerika Serikat memperlihatkan bahwa universitas berkelas dunia selalu membuka ruang kolaborasi lintas negara, disiplin ilmu, dan sektor industri. Dengan demikian, mahasiswa dan peneliti memperoleh kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus memperluas wawasan global.
Lebih jauh, konsep ABG juga sangat relevan bagi sektor kesehatan, farmasi, pangan, dan kosmetik yang menjadi fokus BPOM. Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan obat, vaksin, maupun produk berbasis bahan alam yang mampu bersaing di pasar internasional. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila riset kampus, investasi industri, dan kebijakan pemerintah berjalan secara selaras.
Di samping meningkatkan daya saing nasional, penerapan ABG akan memperkuat budaya riset di lingkungan perguruan tinggi. Dosen dan mahasiswa tidak hanya terdorong menghasilkan karya ilmiah berkualitas, tetapi juga termotivasi menciptakan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Akibatnya, kampus tidak lagi dipandang sekadar sebagai pusat pendidikan, melainkan sebagai pusat lahirnya solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Karena itu, ajakan Taruna Ikrar kepada sivitas akademika UNPRI patut diapresiasi. Penguatan publikasi internasional, perluasan jejaring global, serta hilirisasi inovasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan reputasi perguruan tinggi Indonesia. Semakin kuat kolaborasi yang dibangun, semakin besar pula peluang universitas di Indonesia menembus jajaran kampus terbaik dunia.
Pada akhirnya, universitas kelas dunia bukan hanya tentang peringkat internasional atau jumlah sitasi ilmiah. Lebih dari itu, universitas harus mampu menghasilkan inovasi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat industri nasional, dan mendukung kebijakan pemerintah berbasis ilmu pengetahuan. Dalam konteks tersebut, konsep Academic, Business, Government (ABG) menjadi fondasi penting bagi masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
Apabila kolaborasi ini dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan memiliki universitas berkelas dunia, tetapi juga mampu melahirkan ekosistem inovasi yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa di masa depan.

