MAKASSAR – Hujan yang mengguyur Pulau Bonetambu, Kota Makassar, tak menyurutkan semangat nelayan untuk melaut. Sekitar 40 nelayan tetap turun ke laut saat pembukaan perdana area penangkapan gurita dengan sistem buka–tutup, Jumat (5/12/2025).
Wilayah tangkap tersebut sebelumnya ditutup selama tiga bulan sebagai bagian dari kesepakatan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat. Begitu dibuka, hasilnya langsung terlihat. Beberapa nelayan berhasil mendapatkan gurita dengan bobot lebih dari 3 kilogram dalam waktu kurang dari 30 menit—ukuran yang sebelumnya jarang ditemui di perairan sekitar Bonetambu.
Koordinator Pemberdayaan dan Advokasi Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Muhammad Fauzi Rafiq, mengatakan hasil awal ini menjadi indikator positif dari penerapan sistem buka–tutup. “Penutupan sementara memberi ruang pemulihan. Gurita yang didapat ukurannya lebih besar, meski cuaca hari ini kurang mendukung,” ujarnya.
Menurut Fauzi, penerapan buka–tutup di Bonetambu merupakan yang pertama dan lahir dari proses belajar bersama nelayan. Sebelumnya, masyarakat mengikuti berbagai pertemuan peningkatan kapasitas, mempelajari siklus hidup gurita, musim tangkap, kondisi terumbu karang, hingga belajar dari pulau lain di Kepulauan Spermonde yang lebih dulu menerapkan sistem serupa.
Pada tahap awal, area yang ditutup mencapai 71,44 hektar. Selain gurita, nelayan juga mendapatkan tangkapan lain seperti lobster dan sotong. Total hasil tangkapan gurita pada hari pembukaan tercatat mencapai 16,94 kilogram.
Namun, cuaca menjadi kendala utama. Angin kencang membuat nelayan tidak dapat menjelajah seluruh area yang dibuka sehingga hasil tangkapan belum maksimal.
Di sisi lain, sistem buka–tutup juga dimanfaatkan sebagai upaya melindungi wilayah perairan dari praktik penangkapan ikan ilegal, khususnya pengeboman ikan. Tokoh masyarakat Pulau Bonetambu, Daeng Gassing, menegaskan bahwa pengawasan kini diperketat.
“Patroli dilakukan setiap malam untuk memastikan tidak ada yang masuk, apalagi pengebom. Dampaknya sangat merusak, bukan hanya terumbu karang dan ikan, tapi juga rumah warga,” katanya.
Nelayan Bonetambu juga telah merancang rencana jangka panjang dengan memperluas area tutup tangkap secara bertahap, dimulai dari wilayah barat daya hingga ke arah utara barat laut. Proses ini dilakukan seiring penguatan komunikasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menegaskan bahwa tidak ada satu pola baku dalam penerapan buka–tutup. “Setiap pulau punya kondisi berbeda. Yang terpenting, keputusan diambil oleh masyarakat dan dijalankan secara konsisten,” ujarnya.
Melalui penerapan buka–tutup ini, nelayan Pulau Bonetambu berharap dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus memastikan mata pencaharian mereka tetap terjaga di masa depan.

