Site icon Timur News

Kearifan Atuka Menjaga Alam dan Waktu Bernama Potong-potong Lidi

Bapak Tadeus Salah Satu Tokoh Masyarakat Pada Komunitas Adat Atuka

Bapak Tadeus Salah Satu Tokoh Masyarakat Pada Komunitas Adat Atuka

TIMUR.NEWS – 30/10/2025, Siang itu, di jalan kampung Atuka, Distrik Mimika Tengah, Kabupaten Mimika, Papua Tengah kami berpapasan dengan Bapak Tadeus, salah satu tokoh masyarakat yang baru saja pulang dari dermaga belakang kampung, lokasi pembagian sembako murah dari pemerintah daerah. Kesempatan bertemu beliau di tengah-tengah kegiatan Pemetaan Partisipatif Program Kampung Lestari Blue Forest.

Dengan wajah lelah dan nada kesal, ia bersuara lantang, “Sa dari protes di dermaga, anak. Mereka tara hitung kah kita pu orang ada berapa? Itu sembako cuma 200, sementara orang distrik ini ada 600. Jadi siapa yang salah, sa kah atau mereka?”

Keluhannya mewakili suara banyak warga Atuka yang kecewa. Hari itu, pembagian sembako murah justru memunculkan persoalan klasik ada yang dapat, dan ada yang tidak. “Kalo su begini, pasti ada yang kasian, yang tara dapat apa-apa,” lanjutnya sambil melangkah menuju rumahnya, sebuah rumah panggung sederhana yang berdiri di tepi jalan kampung.

Sesampainya di rumah, beliau tidak langsung mempersilahkan kami masuk. Salah satu cucunya dipanggil untuk membersihkan teras, menata ruang tamu, dan menggelar tikar. Setelah itu barulah kami diajak duduk. Dalam keheningan siang itu, perbincangan kami beralih dari soal sembako ke hal yang lebih mendalam. Karapao, pesta adat tahunan masyarakat Atuka.

Dengan semangat yang perlahan menggantikan nada kesalnya, Bapak Tadeus mulai bercerita. “Karapao itu kami bikin kalo su waktunya. Mulai dari hitung waktu, bikin patung kayu, sampai nanti di akhir semua perlengkapan upacara itu dihanyutkan ke laut.” Ritual karapao masyarakat adat Atuka merupakan acara prosesi untuk transformasi anak laki-laki mereka menuju tahap dewasa. Setiap laki-laki pada komunitas ini pasti melalui ritual ini.

Ia menjelaskan bahwa setiap bagian dalam pelaksanaan Karapao memiliki penanggung jawabnya masing-masing. Tidak sembarang orang bisa terlibat dalam bagian yang bukan tanggung jawabnya. Dalam masyarakat adat Atuka, sudah ditetapkan siapa yang berwenang menentukan waktu, siapa yang memilih pohon untuk dijadikan patung, dan siapa yang bertugas mengukir.

“Yang tunjuk pohon buat patung itu orang tertentu. Dia tinggal di RT sana,” katanya sambil menunjuk ke arah rumah orang yang dimaksud.

Bapak Tadeus lalu menceritakan tentang “potong-potong lidi”, alat bantu tradisional yang digunakan untuk menentukan waktu pelaksanaan Karapao. “Bapak yang urus waktu itu pake lidi. Lidi dipotong-potong lalu dibagi-bagi. Untuk ambil pohon berapa lidi, bikin patung berapa, sampai acara selesai itu juga ada hitungannya,” jelasnya.

Sistem perhitungan ini, yang diwariskan turun-temurun, berfungsi layaknya kalender adat Atuka jauh sebelum mereka mengenal sistem kalender Masehi. Namun lebih dari sekadar alat hitung waktu, potong-potong lidi juga menjadi pembatas aktivitas manusia terhadap alam.

Dengan menentukan berapa banyak lidi untuk setiap kegiatan, masyarakat Atuka mengatur kapan dan seberapa sering mereka boleh masuk ke hutan atau ke wilayah tertentu. Hal ini secara tidak langsung mencegah eksploitasi berlebihan dan memberi kesempatan bagi alam untuk memulihkan diri. Hewan-hewan di dalam hutan tidak terganggu, dan hutan tidak rusak akibat aktivitas manusia yang tak terkendali.

Sistem sosial yang hidup di tengah komunitas adat Atuka bukan hanya tradisi, melainkan juga mekanisme konservasi yang efektif. Pemanfaatan sumber daya alam, seperti pohon untuk patung Karapao, dibatasi oleh aturan adat dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki otoritas. Dengan cara itu, eksploitasi besar-besaran tidak mungkin terjadi.

Harmonisasi antara manusia dan alam di Atuka tercermin jelas dalam pelaksanaan Karapao. Di balik ritual yang tampak sederhana, tersimpan filosofi mendalam tentang tanggung jawab, keteraturan, dan keberlanjutan.

Orang-orang tertentu yang memiliki peran, patung-patung kayu yang diukir penuh makna, serta potong-potong lidi yang mengatur waktu dan batasan, adalah simbol keterikatan manusia dengan alam suatu bentuk keseimbangan yang dijaga agar kampung, hutan, dan laut tetap lestari bagi anak cucu mereka kelak.

Penulis : Rofin, Ishak, Pater, Ramlan
Exit mobile version