MAKASSAR, TIMUR.NEWS — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Makassar memperkuat sistem farmakovigilans dengan mendorong peran strategis tenaga kesehatan dalam pelaporan efek samping obat. Upaya ini ditegaskan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang berlangsung secara hybrid di Aula Bajiminasa, 31 Maret 2026.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Peran Strategis Tenaga Kesehatan Dalam Pelaporan Farmakovigilans Untuk Perlindungan Pasien” dan melibatkan 60 tenaga kesehatan dari rumah sakit, puskesmas, serta klinik di wilayah pengawasan BBPOM Makassar. Selain itu, Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit dan Himpunan Seminat Farmasi Kesehatan Masyarakat turut hadir sebagai bentuk dukungan lintas organisasi profesi.
Kepala BBPOM Makassar, Yosef Dwi Irwan, menegaskan bahwa farmakovigilans berperan penting dalam mendeteksi, menilai, memahami, serta mencegah efek samping obat. Dengan demikian, sistem ini memastikan keamanan dan efektivitas obat setelah beredar di masyarakat.
Ia kemudian mengingatkan bahwa sejarah farmakovigilans tidak lepas dari tragedi Tragedi Thalidomide yang menyebabkan kecacatan janin di berbagai negara. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bahwa risiko obat tidak selalu terdeteksi pada tahap awal.
Karena itu, Yosef menekankan peran tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan. Mereka tidak hanya memberikan terapi, tetapi juga bertanggung jawab memantau dan melaporkan kejadian efek samping obat.
“Peran tenaga kesehatan sangat penting untuk mendukung sistem farmakovigilans dan mewujudkan keselamatan pasien. Namun, saat ini tingkat pelaporan di Sulawesi Selatan masih rendah, yakni sekitar 5,12 persen dari total sarana yang ada,” jelasnya.
Selanjutnya, ia mendorong tenaga kesehatan agar lebih aktif melaporkan kejadian tidak diinginkan. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat memberikan dampak besar bagi keselamatan pasien.
“Hanya lima menit untuk melaporkan, tetapi dampaknya bisa menyelamatkan ribuan nyawa,” tegas Yosef.
Dalam sesi materi, pakar farmakovigilans sekaligus Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Zullies Ikawati, memperkuat pemahaman peserta mengenai konsep dasar farmakovigilans. Ia menekankan bahwa data pelaporan menjadi landasan penting dalam penyusunan kebijakan obat di tingkat nasional.
Menurutnya, peningkatan kesadaran tenaga kesehatan dan masyarakat dapat meminimalkan kesalahan penggunaan obat. Oleh sebab itu, farmakovigilans berkontribusi besar dalam menjaga kesehatan publik secara menyeluruh.
Berikutnya, Wilia Indarwanti dari Direktorat Pengawasan KMEI BPOM memaparkan sistem farmakovigilans di Indonesia, termasuk penggunaan platform e-MESO. Ia menjelaskan bahwa tenaga kesehatan memiliki peran utama dalam memantau dan melaporkan efek samping obat secara sistematis.
“Semakin banyak laporan yang masuk, maka semakin akurat deteksi sinyal keamanan obat. Dengan demikian, pemerintah dapat menetapkan kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Selain itu, Ahmad Lalo memaparkan tata cara pelaporan farmakovigilans. Kemudian, Irmah Azis memandu simulasi pembuatan akun e-MESO. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman teknis yang dapat langsung diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sepanjang kegiatan, peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka aktif berdiskusi serta mengajukan berbagai pertanyaan kepada narasumber. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelaporan efek samping obat.
Dengan adanya kegiatan ini, BBPOM Makassar berharap terbangun komitmen bersama antara regulator dan tenaga kesehatan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem farmakovigilans yang lebih responsif dan andal.
Pada akhirnya, langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga memastikan keamanan, mutu, dan khasiat obat bagi masyarakat Indonesia.












